

Konon manusia pertama yang mendarat di bulan bersama Neil Amstrong, adalah orang Jawa. Buktinya, headline berita di tahun 1969: “Neil Armstrong Mendarat Di Bulan Dengan Selamat”. Selamat atau Slamet, adalah nama yang banyak disandang oleh orang Jawa.
Selamat! Kata ini sering kita ucapkan tanpa makna. Mungkin tanpa disadari. Ketika kita mengucapkan Selamat Pagi pada seseorang, belum tentu kita mengharapkan dan mendoakan orang yang kita beri ucapan itu agar selamat di pagi itu. Mungkin hanya sebuah ucapan spontanitas rutin, dan kemudian berlalu tanpa sadar bahwa kita sudah mengucapkan kata – kata “sakral” di pagi itu. Kata ini memang sakral, karena kata bisa berarti do’a dan bukan sekedar identifikasi wujud atas seseorang atau sesuatu. Tidak heran bila banyak yang diberi nama Slamet, Selamat atau dalam nama lokal; Salama’.
Dalam sebuah acara ulang tahun, kitapun sering mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Tahun yang berulang memang, tapi konotasi penekanannya adalah; selamat karena usia bertambah, dan itu adalah anugerah sebab tidak “dimatikan” pada tahun itu atau tahun – tahun sebelumnya. Selamat Ulang Tahun, karena itu – paling tidak sebagaimana yang kita bayangkan, tidak berbeda ketika mengucapkan selamat atas seseorang karena usahanya yang bertambah atau jabatannya yang meningkat. Usia yang bertambah kita beri ucapan selamat, walau dalam konteks dan teks agama, ketika usia bertambah, seseorang itu semakin mendekati batas akhir “jatah” usianya.
Dalam sebuah pemilihan jabatan, kitapun berduyun bergelombang memberi ucapan selamat atas kemenangan atau keterpilihan atas jabatannya itu. Kisah para penikmat spiritualis yang meraung pilu ketika diberikan jabatan kepadanya, mungkin hanya sekedar kisah inspirasitif tentang beratnya sebuah tangungjawab menyangkut orang banyak.
Tidak heran bila di kalangan penggiat sufisme, kata selamat paling banyak memiliki makna. Ketika berpisah, seorang bisa diberi ucapan selamat (ma’as salamah), dengan harapan, dalam perpisahan itu, yang akan berangkat mendapatkan keselamatan. Selamat dari asal kata salaam, salamaat, juga berarti ketenteraman. Maka yang diberi selamat adalah mereka yang mampu melewati hiruk pikuk godaan kehidupan, baik harta, kesenangan maupun kekuasaan.
Salamat, juga bisa berarti kematian, sehingga tidak heran – walau tidak lumrah diberi ucapan selamat, juga dikenakan pada orang yang meninggal karena telah “berhasil” meninggalkan dunia yang penuh godaan dan perangkap materialismenya. (Dalam bahasa lokal Selayar, orang yang meninggal disebut; salama’mo, atau sudah selamat).
Maka ketika kita mengucapkan selamat kepada yang mendapatkan jabatan, ucapan itu seharusnya tidak saja ucapan kegembiraan atas kemenangannya, tetapi juga pengingat agar berhati – hati menempuh ‘perjalanan’, dan sekaligus do’a semoga selamat dalam mengemban amanah yang telah didapatnya (dan mau diterimanya) …..
Selamat ….


|
|
|
- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates |
![]() |
Seorang pekerja anak …… buruh panggul …. bertahan di atas kendaraan … agar tidak jatuh agar bertahan hidup …
- Tidak pernah terlambat untuk peduli dan berbagi. - Selayar Online - |
![]() |
![]() |
![]() |












































