Hingga akhir abad ke-18, perekonomian Selayar tetap bertumpu pada ekspor tekstil, dan juga teripang, ikan kering, serta hasil-hasil hutan seperti buah kenari dan rotan. Di pasar-pasar Selayar, komoditas dari Singapura dijual atau dipertukarkan dengan tekstil lokal, baik yang kasar maupun yang halus. Tekstil kasar dibawa ke Kepulauan Maluku (Seram dan Kepulauan Kei dan Aru), di mana tekstil itu ditukar dengan bumbu, minyak (kayu putih), sagu, dan burung berwarna. Sementara tekstil yang bagus atau halus, ginggang, dibawa ke Padang, pantai barat Sumatera.
Memasuki abad ke-19, tekstil kapas Sulawesi Selatan, termasuk Selayar, mendapatkan persaingan dari impor Barat. Kehadiran tekstil jadi dengan harga murah mulai masuk ke Indonesia selama masa Pemerintahan Peralihan Inggris (1811-1816). Revolusi industri, pada paruh akhir abad ke-18, memungkinkan perusahaan-perusahaan tekstil Eropa meningkatkan kapasitas produksi dan menekan harga. Sebagai respon atas dinamika pasar, orientasi ekonomi Selayar kemudian beralih ke ekspor kelapa (gelondongan) dan minyak kelapa. Semenjak itu, buah dan minyak kelapa merupakan komoditas penting yang diperdagangkan di Kepulauan (Hindia Belanda). Minyak kelapa--jika diproduksi dengan cara yang semestinya adalah suatu produk yang seterang dan sejernih air--digunakan dalam rumah tangga pribumi sebagai minyak sayur, perawatan rambut, dan—sebelum digantikan oleh minyak tanah—sebagai penerang.
Reorientasi komersial penduduk Selayar ditunjang oleh banyaknya pohon kelapa (Cocos nucifera L.) yang tumbuh sejak lama di pulau ini. Selama berabad-abad, kelapa tumbuh menyeluruh di pulau Selayar, utamanya di padang alasa (daerah pantai), namun eksploitasi komersial berskala besar atas pohon ini tampaknya baru pada paruh akhir abad ke-18.
Menjelang abad ke-19, perkebunan kelapa telah menjadi pusat perekonomian Selayar, dengan fakta bahwa kelapa dianggap sebagai barang pokok dalam perdagangan barter. Kebanyakan penduduk memiliki pohon kelapa. Sementara penduduk yang tidak memiliki pohon kelapa menukar kelapa dengan kapas, beras, dan maize.
Pada pertengahan abad ke-19, pelancong Swiss yang juga pakar ilmu tumbuh-tumbuhan, Zollinger, yang berkunjung ke Selayar pada 1847, menyatakan bahwa, “Perdagangan dalam bentuk kelapa dan minyak hampir merupakan satu-satunya basis yang padanya kekayaan penduduk ditemukan. Pohon kelapa bagi mereka adalah seperti beras bagi penduduk di daerah lain.” Dua puluh tahun kemudian, Van der Stok melaporkan bahwa kekayaan elite Selayar pada umumnya diperoleh dari pohon kelapa. Pada tahun 1880-an, Controleur Engelhard, dengan lebih teliti, menyatakan bahwa sejumlah elite Batangmata, Bonea, dan Bontobangun masing-masing memiliki 10.000 hingga 20.000 pohon dan bahwa para pemilik kebun kelapa yang paling luas dapat ditemukan di regensi-regensi bagian utara. (Heersink, 1995)
Pada tahun 1850-an dan 1860-an, Selayar telah berfungsi sebagai pioner dalam perkebunan kelapa Sulawesi Selatan. Laporan agraria tahun 1860 menyatakan bahwa pohon kelapa langka atau jarang di Sulawesi Selatan, kecuali Selayar, di mana lebih dari tujuh puluh persen dari semua pohon kelapa Sulawesi Selatan ditemukan. Dalam laporan tahun 1867, Selayar kembali disebutkan sebagai pemasok utama kelapa di Sulawesi Selatan. Bahkan, sejak tahun 1855, Selayar menjadi pemasok bibit kelapa untuk daerah-daerah di sekitar Makassar, seiring dengan kebijakan pemerintah kolonial yang mempromosikan penanaman pohon kelapa di seluruh Kepulauan. Pada tahun itu, Gubernur Jenderal Rochussen bahkan melarang penebangan pohon yang sedang berbuah untuk digunakan dalam proyek pembangunan infrastruktur publik.
Sepanjang paruh kedua abad ke-19, hasil-hasil kelapa Selayar diekspor bukan hanya dalam wilayah Sulawesi Selatan, tetapi juga diperdagangkan ke pasar-pasar yang lebih jauh di Nusa Tenggara (Bima, Sumbawa), Jawa (Surabaya, Gresik, Semarang), Bali, dan Kalimantan (Banjarmasin). Pada periode 1875-1879, jumlah ekspor hasil kelapa berfluktuasi antara 22 persen hingga 47 persen dari nilai total ekspor Selayar. Seiring kian meningkatnya volume ekspor domestik, kebutuhan pasar minyak kelapa Eropa juga semakin besar. Kecenderungan ini dirangsang oleh peningkatan teknik-teknik penggunaan minyak kelapa untuk bahan baku pembuatan sabun dan lilin setelah tahun 1840.
Seiring dengan kian kokohnya hasil-hasil kelapa sebagai mainstream (arus utama) perekonomian, tingkat kesejahteraan penduduk Selayar juga kian meningkat, khususnya para pedagang-haji Batangmata, yang menjadi pioner dalam perdagangan jarak jauh produk ini, dan elite-elite lokal yang terus mengakumulasi pohon kelapa dari waktu ke waktu.
Pada paruh kedua abad ke-19, Selayar digambarkan sebagai pulau yang makmur. Gambaran yang diberikan oleh Gubernur Makassar Schaap, yang disampaikan pada tahun 1857, menerangkannya dengan contoh: “Di antara penduduk Celebes, tidak ada yang lebih makmur daripada Selayar. Perahu-perahu mereka, sering kali bergabung menjadi armada-armada besar, dapat dilihat di mana-mana di negara-negara sekitarnya, di mana uang dapat diperoleh. Kampung-kampung luas di pantai barat Selayar adalah pusat-pusat perdagangan yang hidup, di mana empat puluh hingga lima puluh perahu besar sering kali dapat ditemukan pada waktu yang bersamaan. Kemakmuran dalam rumah tangga, pakaian, dan perabot, yang tidak biasanya di Celebes, dapat dilihat di antara para pedagang yang tinggal di sana dan di antara para penguasa dan elite pribumi. Perkebunan dan penenunan kapas adalah mata pencaharian penting di sana. Kelapa dan minyak kelapa diekspor dan mendatangkan keuntungan yang sangat banyak. Benar adanya bahwa penduduk di bagian dalam, petani penggarap, memang kurang makmur dibanding para pedagang dan penduduk pantai, tetapi pendapatan dan hasil mereka selalu memadai untuk membayar upeti sebanyak satu gulden dalam dua angsuran, tanpa masalah berarti.”
Sebuah sumber arsipal juga menyebutkan, di distrik Celebes dan Daerah Bawahannya, jatah haji Selayar adalah yang terbesar dengan jumlah yang terus bertambah antara tahun 1863-1879 dari 40 menjadi 179, di mana 42 di antaranya adalah perempuan. Sumber ini tidak menjelaskan latar belakang para peziarah itu, namun pastilah mereka terdiri para pedagang kaya, baik dari kalangan bangsawan maupun orang biasa.
Era Kopra
Pada dekade-dekade berikutnya abad ke-19, permintaan produk minyak dan industri lemak Barat meningkat. Sejak 1860-an, permintaan lemak-masakan di Eropa Barat menggunung dengan cepat sebagai konsekuensi dari petumbuhan tingkat pekerja di masyarakat, yang tidak mampu mengusahakan mentega mahal. Hal ini memicu perkembangan jenis lemak-masakan baru, margarin, yang pada awalnya dibuat dari lemak hewan dengan hanya sedikit menggunakan lemak sayur.
Tetapi, setelah tahun 1880, harga lemak hewan meningkat secara konstan. Industri-industri margarin lalu beralih ke kopra yang sebelumnya merupakan medan produser sabun. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan harga kopra pada dekade-dekade awal abad ke-20.
Sementara itu, di Selayar, era kopra sudah dimulai sejak tahun 1880 ketika kelapa yang dikeringkan ini pertama kali dikirim ke Eropa melalui Makassar. Pioner dalam perniagaan ini adalah regensi-regensi di bagian utara, dengan Batangmata--kubu haji-pedagang--sebagai jalur keluarnya.
Pada tahun 1881, ekspor kopra Selayar masih terus meningkat, tetapi setelah itu jatuh kembali sebagai konsekuensi dari jatuhnya harga. Pada dekade 1880 hingga 1890, komoditas perdagangan yang lebih lama, buah kelapa dan minyak kelapa, tidak tampak terpengaruh oleh persaingan yang dibangkitkan oleh perdagangan kopra, karena perdagangan tersebut masih terus berkembang selama periode ini. Pada tahun 1884, 700.000 butir kelapa dan 3.853 pikul minyak diekspor, sementara angka untuk tahun 1895 menunjukkan ekspor sebanyak 2 juta butir kelapa dan 6.700 pikul minyak.
Harga kopra yang lebih tinggi, bergabung dengan tingkat penggunaan tenaga kerja yang lebih rendah yang dibutuhkan untuk produksi ini, menghasilkan pergeseran yang kurang lebih sempurna ke ekspor kopra sekitar peralihan abad ke-19 ke abad ke-20.
Sama dengan di daerah-daerah lain di Indonesia Timur, para pedagang Cina (taukeh) mendominasi perdagangan kopra Selayar menjelang Perang Dunia Pertama. Ekspor kopra Selayar umumnya diorganisasikan sepanjang ikatan perusahaan (eksportir di Makassar)-taukeh Cina-pedagang perantara (pappalele)-produsen kopra, di mana kapal uap dan sistem kredit menjadi instrumen krusial.
Dibandingkan dengan akhir abad ke-19, karakter jaringan Cina di Selayar mengalami perubahan. Aktivitas bisnis utama mereka adalah ekspor kopra, sementara perdagangan yang lebih lama, yakni hasil-hasil laut, lebih menjadi sampingan, selain ekspor rotan dan impor beras.
Pada tahun 1918, tercatat ada enam perusahaan ekspor kopra berbasis di Makassar yang membuka cabang di Selayar, yakni Thoen Tjing Tiem & Co, Tan Seng Tjoang, Ting Tjam & Co, Jap Tjang Seng, Soeng Liong, dan Hap Tjoen & Co yang bahkan membuka kantor cabang di Jampea. Selain taukeh Cina, masih ada pedagang-pedagang lokal, dengan perahu-perahu mereka sendiri, yang tidak selamanya berorientasi ke Makassar, tetapi bisa juga ke daerah-daerah lain, seperti Surabaya, untuk mengejar harga jual yang lebih tinggi.
Pada awal tahun 1920-an, baik pengiriman melalui perahu maupun kapal uap diuntungkan terus oleh melambungnya permintaan kopra di negara-negara Barat. Pada Februari 1919, bahkan kapal uap tambahan dikirim ke Selayar untuk mengangkut sisa kopra pada bulan itu ke Makassar.
Seusai Perang Dunia Pertama (1914-1918), saat harga kopra di pasar internasional mengalami penurunan tajam, tren kenaikan harga justru berlangsung dari bulan ke bulan. Misalnya, pada Januari 1920, harga per pikul masih f 12- f 12,25 untuk kopra dan f 14-f 17,15 untuk beras, sementara pada November tahun itu, satu pikil kopra melonjak menjadi f 22-23,50, berlawanan dengan harga beras yang turun menjadi f 9,50 – f 11,50 per pikul.
Pada paruh pertama tahun 1920-an, Selayar mengekspor rata-rata 6.000 hingga 10.000 pikul kopra setiap bulan dengan harga antara 12 dan 15 gulden per pikul. Delapan puluh persen dari total produksi kopra datang dari sebelah utara Benteng dan sisanya dari bagian selatan.
Era Green Gold, dari Intan Permata hingga Gigi Emas
Dengan kopra sebagai komoditas ekspor dominan, untuk tidak mengatakan tunggal, Selayar mengalami surplus luar biasa dalam neraca perdagangannya. Controleur Baden menaksirnya mencapai 5,3 juta gulden selama tahun 1910 hingga 1918. Bahkan, pada saat krisis harga kopra di pertengahan Perang Dunia Pertama, jumlah akumulasi uang masih bisa mencapai kurang lebih 300.000 gulden. Sementara surplus 750.000 gulden selalu diperoleh pada tahun-tahun sebelum perang.
Puncak kekayaan Selayar dicapai pada awal 1920-an selama ledakan perdagangan kopra pascaperang. Kesejahteraan penduduk, khususnya yang bermukim di pantai barat yang hidup dengan mengandalkan bisnis kelapa, meningkat drastis dibanding dekade-dekade sebelumnya.
Pada tahun 1924, afdeeling Bonthain (Bantaeng) mendaftar 123 pedagang pribumi, hampir semuanya pedagang kopra, termasuk pedagang perantara mereka. Mayoritas saudagar ini berasal dari subdistrik Selayar, daerah kopra terpenting dalam distrik Bantaeng. Pendapatan tahunan sebesar 2000 gulden tidak jarang ditemukan pada orang-orang kaya itu. Banyak di antara mereka yang pendapatannya bahkan mencapai 8000 hingga 9000 gulden. Pada distrik-distrik lain Celebes dan Daerah-daerah bawahannya, jumlah dan kekayaan pedagang jauh lebih rendah.
Pada perayaan Hari Ulang Tahun Ratu, 1925, Asisten Residen Van der Missen mengungkapkan kekagumannya:
“Semua orang dengan pakaian pesta, menggunakan emas dan intan berlian yang berharga; tanpa diminta membuktikan kemakmuran Selayar. Reporter tidak pernah melihat sekumpulan penduduk dengan begitu banyak gigi emas!”
Kondisi makmur ini terus berlangsung hingga 1926. Sayangnya, memasuki tahun 1927, daya beli petani dirasakan mulai terjepit. Bukan saja karena diperhadapkan dengan harga kopra yang memburuk, tetapi juga karena perkebunan kelapa terkena serangan serangga dan kemarau panjang. Kehadiran Brontispa dan lalat putih pertama-tama dirasakan di bagian selatan Selayar, dan perlahan-lahan menyebar ke utara. Dampak serangan serangga terhadap tanaman kelapa Selayar tidak bisa dianggap sebagai suatu perkembangan kebetulan karena pada umumnya dikenal bahwa monocrop (tanaman tunggal) rentan kena penyakit. Musuh paling serius pohon kelapa Selayar adalah Brontispa frogatti selebensis, disebut penyakit merah oleh penduduk lokal. Penyebabnya adalah kumbang yang mempengaruhi daun muda pada mahkota atau tajuk pohon. Sebatang pohon dapat secara normal sembuh dari suatu serangan tunggal, tetapi bisa mati bila terserang secara berulang-ulang. Jenis serangga lainnya adalah Aleuradicus destructor (lalat pituh) yang menutupi daun tua dengan zat berwarna putih. Zat itu akan meninggalkan noda hitam yang lama kelamaan dapat mematikan pohon. Dampak lalat putih kurang serius dibandingkan Brontispa karena ia menghilang selama musim hujan dan jarang menyerang daun muda. Pohon juga cepat sembuh dari lalat putih dan kemudian secara temporer memproduksi dua kali lipat buah kelapa. Hama Brontispa di lain sisi menyebar lebih lambat daripada lalat putih. Pohon yang tertimpa kedua hama tersebut lebih miskin karena daunnya segera rontok dan kemudian mati. Pohon-pohon yang telah mati memicu petaka selanjutnya, karena jenis kumbang lainnya, Ocyctes chinocerus, lebih menyukai batang mati sebagai tempat perkembangbiakan, yang juga akan memakan daun pohon yang masih sehat di sekitarnya.
Konsekuensinya, produksi kelapa dan kopra menurun drastis. Contoh, pada bulan Agustus 1927, hanya dua puluh hingga tiga puluh pikul kopra yang tiba di pasar Bonelohe (Tanete), padahal lima hingga enam ratus pikul yang biasanya diperdagangkan setiap minggu. Masih di regensi yang sama, juga dilaporkan banyak terjadi penunggakan pajak akibat hasil kopra yang merosot. Di Bonea, pada bulan Oktober tahun itu, penduduk bahkan berinisiatif membersihkan gaukang mereka untuk menormalkan kembali produksi kebun kelapa dan kondisi perekonomian lokal.
Penurunan dalam pendapatan perdagangan kopra sebaliknya juga mempengaruhi perdagangan impor komplementer. Pada bulan Juni 1927, beberapa perusahaan Cina bubar lalu pindah ke Makassar dan Palopo.
Pada tahun 1928 dilaporkan, arus besar uang logam telah meninggalkan pulau ini dengan arah Flores dan Timor, mungkin digunakan untuk membeli makanan. Selayar selatan, di mana serangan serangga terjadi paling parah, bahkan digambarkan agak miskin pada tahun 1929. Sementara pada tahun yang sama, di bagian utara, Onto, Buki, dan bagian-bagian Bonea, penduduk terpaksa menjual intan permata dan emas--yang mereka akumulasi saat ledakan kopra--setelah kegagalan panen jagung.
Keadaan sedikit membaik pada tahun 1928 ketika produksi kelapa, juga jagung dan kemiri, pulih, yang secara bersamaan memicu perdagangan impor. Namun, pada pertengahan tahun 1929, titik rendah selanjutnya dicapai ketika dampak serangan serangga (lalat putih dan Brontispa) mencapai puncaknya dan hujan menjauh dari pulau ini.
Pada saat yang sama, ekonomi dunia mengalami depresi berat (great depretion). Krisis ekonomi ini menghancurkan harga hasil-hasil pertanian, seperti kopra yang menimbulkan petaka bagi semua daerah kelapa yang tergantung sepenuhnya pada ekspor kopra. Pada tahun 1930, satu kuintal kopra dihargai tidak lebih dari 17,50 gulden di Eropa, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelum tahun 1903.
Pada awalnya, petani Selayar kembali menerapkan taktik penundaan produksi, dengan mengharapkan harga lebih baik pada tahun-tahun berikutnya. Namun, kebijakan ini segera terbukti tidak efektif karena krisis terus berlanjut. Awal tahun 1930, ketika pohon kelapa Selayar masih dalam kondisi yang patut dipelihara, pulau ini kembali diserang musim kemarau yang hebat, menyebabkan kematian banyak pohon kelapa yang memang sudah melemah. Dua tahun kemudian, tidak lebih dari dua puluh persen pohon kelapa Selayar yang dilaporkan berbuah, dan Brontispa tetap hidup hingga setelah Perang Dunia Kedua.
Kehilangan penghasilan dari ekspor kopra terus menggerogoti basis perekonomian Selayar. Impor, yang dihubungkan secara ketat dengan ekspor, terpaksa menurun. Misalnya, penurunan konsumsi lokal atas minyak tanah dan gas. Pada tahun 1929 impor gas sebanyak 1500 kaleng menurun pada tahun 1930 menjadi 800 kaleng.
Dampak dari krisis parah ini terus berentetan. Daya beli masyarakat yang terlibat dalam produksi kopra menurun drastis. Mereka bahkan tidak mampu menebus kewajiban kerja rodi atau membayar pajak karena tabungan habis dipakai membeli barang kebutuhan pokok.
Penjualan kain impor yang mahal juga anjlok karena penduduk kembali memilih pakaian murah, kain produksi lokal. Penduduk dari pantai barat yang sebelumnya tergantung penuh pada beras impor mengubah pola makan mereka dengan mencampurkan beras dengan jagung. Orang yang kurang kaya, yang tidak bisa membeli makanan, kembali mencoba menanam jagung. Area perkebunan diperluas, tetapi lahan yang baru dibuka kebanyakan berkategori ladang karang yang semuanya terletak jauh dari kampung. Selama musim kemarau, penanaman bahan makanan bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan penduduk, memaksa mereka memecahkan celengan untuk membeli makanan.
Sementara itu, sebagian penduduk terpaksa menjual emas dan intan permata mereka kepada pembeli keliling, yang pada tahun 1932 mengakibatkan pengalihan 10.000 gulden ke Makassar.
Tidak terdapat laporan apakah penduduk juga mencopot gigi emasnya lalu menjualnya ke pedagang keliling. Laporan yang ada hanya menyebutkan bahwa banyak dokter gigi, yang telah memberi penduduk lokal gigi emas yang berlebihan pada dekade sebelumnya, memecat empat hingga lima asisten mereka dan kemudian meninggalkan Selayar, pulau yang penduduknya telah kehilangan daya beli.
Selanjutnya, kehilangan penghasilan juga memicu migrasi buruh, sementara migrasi permanen ke daerah-daerah seperti Jampea terus berlanjut. Ratusan orang Selayar pergi ke Makassar untuk bekerja di toko, menjadi pelayan atau pemilah kopi. Migrasi ini dipicu oleh kurangnya lahan pertanian yang bagus di kampung halaman mereka.
Bukan saja produsen kopra (petani) yang terpuruk. Para pappalele pun merasakan dampak dari penurunan pendapatan, termasuk taukeh Cina. Bisnis mereka tidak lagi menggiurkan karena tipisnya perbedaan harga kopra antara Selayar dan Makassar (contoh perbandingan: pada Desember 1919, harga kopra di Selayar 22,00-23,50 gulden dan 29,00-31,00 gulden di Makassar; pada Desember 1928, harga kopra di Selayar 10,00 gulden dan di Makassar 11,75-12,35 gulden). Pada tahun 1931, keuntungan nyata bagi seorang taukeh Cina tidak lebih dari 10 sen per pikul kopra, sekalipun terdapat perbedaan harga 2 gulden antara Makassar dan daerah pinggiran, termasuk Selayar. Batas minimal ini bertalian dengan pengurangan beberapa biaya tambahan (karung goni 6 sen, upah muat 20 sen per pikul, upah menimbang di Makassar 5 sen per karung, 1-2 persen untuk pembayaran komisi, penyusutan selama perjalanan berkisar 10 persen). Para pembeli kopra borongan juga kemudian kurang dermawan dalam membayar asisten mereka. Contoh, pada tahun 1932, papalele Selayar dibayar hanya dengan komisi, padahal sebelumnya mereka juga memperoleh gaji tetap. Persekot kreadit juga berkurang drastis.
Menyikapi kondisi ini, kelompok taukeh Cina kemudian segera mengubah orientasi komersial mereka menjadi lebih luas. Bila sebelumnya berkonsentrasi penuh pada pembelian kopra, semenjak krisis, mereka menjadi importir bahan-bahan perlengkapan, seperti sepeda Jepang, tekstil, pisau, sabun, dan rantai manik-manik untuk kebutuhan lokal. Pada saat yang sama, mereka mengekspor ikan kering, selain kopra dalam jumlah terbatas.
Pada tahun 1941, harga kopra masih sangat rendah dan penduduk tidak lagi berusaha mengumpulkan buah kelapa dari pohonnya, tetapi hanya mengumpulkan buah yang jatuh ke tanah. Petani penggarap terus mengolah kelapa mereka menjadi minyak, bukan kopra. Perubahan ini khususnya ditemukan di Selayar utara di mana perahu lokal mengekspor minyak ke daerah besar Sulawesi. Pada bulan April tahun 1941, minyak yang diolah dari seratus butir kelapa dapat dijual 40 hingga 60 sen, sementara kuantitas kopra yang dibuat dari jumlah kelapa yang sama mendatangkan hasil tidak lebih dari 25 sen.
Posisi buruk penghasil kopra pribumi pada tahun 1930-an membuat Belanda berkeinginan untuk meningkatkan perdagangan kopra Indonesia Timur melalui implementasi sistem pembelian teratur dan terpusat di bawah pengawasan Pemerintah Kolonial. Pada tahun 1940, ketika ekspor ke Eropa menjadi mungkin, pembeli tunggal, Coprafond, diperkenalkan. Coprafond melakukan pembelian dan menampung kopra, memberlakukan kualitas dan pengemasan standar, dan secara teratur menginformasikan harga kopra kepada produsen. Organisasi ini menjamin harga minimum kopra dan berusaha menstabilkan tingkat harga internal.
Di Makassar, perusahaan-perusahaan ekspor diorganisasikan dalam satu wadah, yang dengan itu mereka dapat membeli kopra dengan harga tetap setelah dialokasikan oleh Coprafond. Pembeli tunggal ini juga membangun jaringan agensi di seluruh Indonesia bagian timur, termasuk satu di Selayar.
Setelah waktu perang, keadaan kelihatannya telah berbalik karena perekonomian Selayar kemudian memperlihatkan kemiripan yang sangat dengan perekonomian pada abad ke-19. Tekstil kapas lokal dan minyak kelapa sekali lagi menjadi bahan ekspor utama Selayar. Di pasaran, kain kasar tradisional dijual dengan harga 30 gulden per lembar (f 0,90-f 1,50 sebelum tahun 1942) atau ditukar dengan beras.
Sementara itu, produksi kopra berhenti total. Kelapa hanya diolah menjadi minyak. Jauh lebih menguntungkan membuat minyak kelapa di dalam rumah tangga daripada membayar upah tinggi untuk pengumpul kelapa dan pengolah kopra profesional.
Pada Bulan Desember 1945, beberapa bulan setelah Jepang kalah perang, Coprafond melanjutkan aktivitasnya. Organisasi ini memiliki tugas dua kali lipat, yakni memicu produksi kopra untuk industri sabun dan minyak untuk menekan harga minyak yang sangat tinggi di Kepulauan, serta mengaktifkan kembali ekspor kopra ke Eropa untuk menguatkan posisi finansial Hindia Belanda.
Masalah utama yang dihadapi Coprafond di Selayar dan di daerah-daerah penghasil kopra lainnya di Indonesia Timur adalah keengganan penduduk mengolah kelapa menjadi kopra. Untuk merevitalisasi ekspor kopra Selayar, Coprafond mendatangkan tekstil Amerika yang lebih murah dan berkualitas ketimbang tekstil lokal. Pada saat yang sama, inflasi harga beras, komoditas yang biasa ditukarkan dengan tekstil Selayar, dicoba dihentikan dengan mematoknya pada harga 14 sen per kilogram. Bila harga beras ditekan, harga tekstil pun diharapkan ikut turun.
Jadi, hanya itulah cara untuk merevitalisasi ekspor kopra dari Selayar, yakni melalui pengrusakan industri tekstil lokal dan produksi minyak kelapa. Namun, upaya itu tetap tidak efektif. Produsen kelapa di pulau ini rupanya sangat menyadari bahwa era “green gold” (emas hijau), dalam bentuk komoditas kopra, telah berlalu.
Info Redaksi

- Penulis : Ruslan A. Serang
Komentar Pembaca

Artikel Terkait
-
29/03/2010 09:25
-
29/03/2010 09:15
-
10/03/2010 12:38
Menengok Upaya Pengembangan Pertanian di Zaman Kolonial - RA. Serang
-
03/02/2010 09:32
-
26/01/2010 09:17
Muhdi Akbar, Cikal Bakal Pluralisme Beragama di Binanga Sombaiya - RA. Serang
-
07/08/2009 13:32
-
07/08/2009 13:23
-
07/08/2009 13:17
-
07/04/2009 13:59
-
26/12/2008 13:04





































