Salam Kebersamaan ….
Kebersamaan adalah anugerah, dan untuk itu harus diapresiasi. Apresiasi adalah ekspresi untuk merayakan ketidaksendirian kita, sebuah penghargaan akan kebersamaan itu. Teman, tetangga, komunitas, masyarakat, jaringan, adalah kebersamaan dimana kita saling hidup dan menghidupi. Dan dengan kekayaan ini B2M menjadi dapat berbuat.
B2M SEKILAS
Didirikannya B2M adalah sebuah upaya menjembatani jarak yang ada dan menganga antara teori dengan praktek, antara pengetahuan mendalam di kelas dengan pengalaman panjang di lapangan, antara kampus dengan kampung. Melalui pemaduan ini maka kami tidak sekedar berpikir dan bertindak kolektif, melainkan juga: strategis. Melalui pemaduan ini maka kami menjadi meyakini bahwa community development sebenarnya adalah sebuah upaya untuk memberi jeda bagi sebuah rutinitas masyarakat melalui diberikannya lebih banyak pilihan. Melalui pemaduan ini maka kami menjadi paham pada apa yang dilakukan.
BENTUK ORGANISASI
Secara legal formal bentuk organisasi B2M adalah perkumpulan.
SEJARAH B2M
Embrio awalnya lahir dari pengalaman panjang memfasilitasi dan membantu Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa – BPD (kini Badan Permusyawaratan Desa, di 32 Desa / Kelurahan di berbagai wilayah Kab. Selayar membuat Perencanaan berbasis masyarakat (community development planning) kerjasama Pemerintah Kabupaten Selayar dan Plan Indonesia Program Unit Selayar. Dari diskusi panjang bersama masyarakat itulah – dimana lebih sering menginap di rumah-rumah warga sepanjang hampir satu tahun, muncul harapan dari berbagai pihak tentang perlu dan pentingnya lembaga non government untuk paling tidak mampu mendengar keluh kesah mereka untuk kemudian mendiskusikannya secara bersama mengenai alternatif pemecahannya dengan memaksimalkan sumberdaya lokal yang ada secara berkelanjutan.


HARAPAN YANG INGIN DIRAIH
Inilah pernyataan visi kami: Terbukanya jalan untuk menggerakkan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya wilayahnya. Kami memiliki satu keyakinan: "jika proses pendampingan menuai keberhasilan maka masyarakatnyalah yang pintar, tetapi jika proses pendampingan menjadi gagal maka lembaga pendampingnyalah yang belum optimal", sehingga pernyataan misi kami adalah: Mencapai kemampuan optimal lembaga pendamping untuk memahami dan melaksanakan kegiatan dalam pengelolaan sumber daya wilayah yang berkelanjutan berbasis masyarakat.
ISU-ISU YANG DITANGANI
1. perencanaan pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan secara partisipatif,
2. pengembangan kapasitas komunitas,
3. pengarusutamaan hak-hak dan partisipasi anak, dan
4. penguatan kapasitas lembaga pendamping dan fasilitator lokal dalam melaksanakan pendekatan kewilayahan
KEGIATAN YANG DILAKUKAN
Konsultasi
Memberikan jasa konsultasi menuntut disediakannya dua syarat utama, (i) keahlian, dan (ii) sumber informasi. Keahlian adalah hasil pembuahan dari pengalaman yang panjang di lapangan dan pemahaman yang dalam mengenai konsep dan teori. Sedangkan sumber informasi adalah buah dari ketekunan memungut dan mengumpulkan data dan pembelajaran yang terserak sepanjang perjalanan berkegiatan. Pengalaman yang panjang dapat dilihat dari aktifitas yang pernah kami lakukan, dan pemahaman yang dalam dapat dilihat di berbagai pengembangan metodologi dan penulisan modul yang kami susun untuk berbagai kegiatan.
Fasilitasi
Fasilitator adalah katalisator: mempercepat reaksi tetapi tidak ikut bereaksi. Proses fasilitasi adalah proses make things happen. Untuk membuat sesuatu terjadi dan mempercepatnya, tiada lain yang harus dilakukan selain mempermudah prosesnya. Sesuai dengan salah satu nilai yang kami yakini: simplifying difficulties, mempermudah yang sulit, menyederhanakan yang rumit. Sedangkan agar kami tidak ikut bereaksi, maka kami harus "netral", bukan berarti kami menjadi bebas nilai, karena kami lebih memilih untuk menjadi orang baik. PelatihanPelatihan tidak lain tidak bukan adalah masalah manajemen pengetahuan. Manajemen pengetahuan adalah membuat sebanyak-banyaknya tacit knowledge (pengetahuan yang dikuasai sendiri) menjadi explicit knowledge (pengetahuan yang dikuasai bersama). Jelas, salah satu alasannya adalah tacit knowledge akan selalu punah seiring habisnya usia orang yang menguasai, sedangkan explicit knowledge akan selalu berakumulasi dan berkembang. Satu tantangan terbesar dalam manajemen pengetahuan adalah tacit knowledge bukan hanya mengenai pengetahuan berbasis kerangka berpikir logis saja, tetapi juga pengetahuan berbasis intuisi. Membuat pengetahuan berbasis intuisi menjadi explicit knowledge, inilah tantangannya. Beragam metode pelatihan coba kami kembangkan untuk menjawab tantangan tersebut.
Penelitian
Penelitian selalu diawali dengan pertanyaan. Apapun pertanyaannya, hanya ada dua jenis bila digolongkan: Jenis pertama, pertanyaan "benarkah?". Pertanyaan jenis ini menuntut jawaban dalam bentuk pembuktian. Kerangka konsep sudah ada di dalam kepala kita (diistilahkan sebagai hipotesa) dan pembuktian bekerja untuk menunjukkan sesuai tidaknya apa yang ada di dalam kepala dengan kenyataan di dunia nyata. Jenis kedua, pertanyaan "bagaimanakah?". Pertanyaan jenis ini menuntut jawaban dalam bentuk solusi nyata. Solusi nyata dibangun di atas informasi yang benar/fakta, jenis informasi yang telah diuji melalui serangkaian pembuktian. Bagaimanapun, solusi adalah konsep, yang bila dilaksanakan perlu untuk dibuktikan kembali tingkat keberhasilannya. Jadi, pertanyaan "benarkah?" dan "bagaimanakah?" adalah sebuah siklus, membuat pengetahuan terus berakumulasi dan berkembang. Dan penelitian yang baik selalu diakhiri dengan jawaban yang meyakinkan. Meyakinkan tidaknya jawaban yang diberikan ditentukan oleh metodologi apa yang digunakan. Metodologi adalah kekuatan dari sebuah penelitian. Kami mencoba mengembangkan metodologi dengan pendekatan partisipatif yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena kami memang meyakini bahwa partisipatif itu ilmiah.
B2M
Jln. Jend. Sudirman 59, BentengSelayar – South Sulawesi
Indonesia
Info Redaksi

- Penulis : Rakhmat Zaenal
Komentar Pembaca

Artikel Terkait
-
01/08/2008 09:52





































