Melayat Ke Jenazah Sendiri - Muda Malik

 

Seperti biasa, sepulang kantor, aku langsung duduk santai untuk melepas penat. Sepertinya aku sangat enggan untuk membersihkan diri untuk kemudian shalat.

Anak-anak dan istri sedang berkumpul di ruang tengah. Dalam keadaan lelah, aku dibuai angin dingin sepoi-sepoi yang menghembus tepat di mukaku.


Selang beberapa lama, seseorang yang tak tampak mukanya, berjubah putih dengan tongkat di tangan, tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Aku sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. Sebelum sempat bertanya siapa dia, tiba-tiba aku merasakan dadaku sesak dan sangat sulit untuk bernafas. Aku berusaha untuk tetap menghirup udara sebisanya. Yang aku rasakan waktu itu, ada sesuatu yang bergerak perlahan dalam dadaku, terus bergerak ke kerongkongan. Rasanya sakit sekali. Air mataku keluar menahan rasa sakit itu. “Oh Tuhan, ada apa dengan diriku?”

Dalam kondisi yang masih sulit bernafas, benda tadi terus mendesak untuk keluar dari tubuhku. Kerongkonganku sampai mengeluarkan bunyi.

 

Seolah tak mampu menahan benda tadi, badanku gemetar. Peluh mengucur deras, mataku terbelalak, dan air mataku seolah tak mau berhenti.

 

Tangan dan kakiku kejang sedetik setelah benda itu meninggalkan aku. Aku melihat benda tadi dibawa pergi oleh orang misterius itu, berlalu begitu saja, dan kemudian hilang dari pandangan. Setelah itu, aku merasa jauh lebih sehat, segar, tidak seperti biasanya setiap pulang kerja.

 

Tapi aku mendadak heran. Anak-anak dan istriku yang sedari tadi ada di ruang tengah, tiba-tiba terkejut dan berhamburan ke arahku.


Di depan mereka aku melihat seseorang yang terbujur kaku, tepat di bawah sofa yang aku duduki tadi. Badannya dingin dan kulitnya membiru.

Siapa dia? Mengapa anak-anak dan istriku memeluknya sambil menangis? Mereka menjerit histeris, terutama istriku. Ia memeluk orang yang terbujur tersebut seolah tak mau melepaskannya. Siapa dia?

 

Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan. Dia mirip dengan aku. Tuhan, apakah yang terjadi? Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu. Aku mencoba merangkul anak-anakku tapi tak bisa. Aku mencoba menjelaskan bahwa orang itu bukan aku. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku ada di sini.

Aku mulai berteriak, tapi mereka tidak mendengarku. Merekapun tidak melihatku. Mereka terus saja menangis.

 

Aku kemudian sadar bahwa orang misterius tadi telah membawa rohku. Aku telah mati!

Aku telah “meninggalkan” anak-anak dan istriku. Aku menangis, berteriak. Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku. Aku sangat sedih. Selama hidupku, belum banyak yang aku lakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang aku lakukan dalam membimbing meraka. Belum banyak yang bisa kuperbuat sedangkan waktuku telah “habis”. Masaku telah terlewati. Aku sudah tutup usia pada saat aku terduduk di sofa setelah lelah bekerja seharian.

 

Sungguh, bila aku “tahu” aku akan mati sewaktu-waktu, aku akan membagi waktu:  kapan harus bekerja, beribadah, dan kapan untuk keluarga. Aku menyesal karena terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan serba kekurangan, terutama dalam ibadah.

 

Tuhan, jika Engkau ijinkan aku “masih” hidup dan masih bisa membaca cerita ini (di Selayaronline.com – Ed), sungguh aku akan sangat bahagia. Aku masih akan mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa, dan berbuat kebaikan. Dan ketika maut menjemputku kelak, aku telah berada dalam keadaan yang lebih siap.

 

Sebarkan kisah ini ke 5 orang terdekat Anda, dan mintalah mereka untuk
melakukan hal yang sama. Cukup lima saja! Ini bukan cerita ancaman
berantai. Yang jelas jika Anda tidak meneruskan kisah ini, maka Anda telah
menyia-nyiakan kesempatan untuk saling menasihati. Jika Anda lakukan dengan
ikhlas, maka Anda akan menuai kebaikan.

 

Mari berlomba dalam kebaikan.

 

 
Share

 

Info Redaksi

Muda Malik
  • Penulis : Muda Malik
  •  
  • Revisi Terakhir : 20/01/2010 12:34
    Jumlah Akses : 1176
 

Komentar Pembaca

Nama Anda :
Komentar
Max. 250 Karakter
:
Kode :
   (*) Isi dengan Kode diatas untuk Verifikasi
 
 
 
Pengelola berkewajiban untuk merubah, menghapus komentar yang tidak layak baik dari segi bahasa maupun isinya.