![]() |
Ketika dipercaya untuk merangkap kegiatan sebagai Penanggungjawab dan Pemred "The Executive" pada
|
|
tahun 90-an, beberapa "teman" dimana sebelumnya kami sering berinteraksi dengan mereka di berbagai forum, menjadi sangat berhati-hati berbicara. Tidak terkecuali dalam obrolan-obrolan bebas, di sebuah pameran lukisan misalnya. Setiap interaksi, selalu diasumsikan bahwa setelah itu bisa muncul sorotan dan kritikan. Dan untuk itu, kata-kata harus dikontrol. Apalagi bila media yang digunakan dibaca oleh banyak pihak, terutama pengambil kebijakan. Tapi kenapa kritik bisa begitu menakutkan bagi sebagian orang?
Kritik berasal dari bahasa Yunani, kritikos, yang berarti kemampuan memilah. Dasar katanya adalah krits yang berarti "hakim" (atas satu atau beberapa persoalan), atau pemisahan (beberapa unsur). Tapi secara umum, kritik – salah satunya, berarti, formasi dan ekspresi "penghakiman" atas kebaikan, kesalahan, nilai (value) atau keyakinan terhadap sesuatu.
Dengan makna seperti ini – dimana kritik bisa muncul atas apa saja, membuat kritik merupakan sesuatu yang harus dihindari, ditabukan, bahkan terkadang harus diberantas. (Majalah Tempo mengalami pembreidelan karena memuat proses pembelian dan pengiriman kapal-kapal perang eks Jerman Timur yang kebanyakan usia ideal operasionalnya sudah habis, termasuk investigasi tenggelamnya salah satu kapal dimaksud di perairan Spanyol dalam perjalanan ke Indonesia).
Dalam banyak hal – pada banyak orang, media – yang sering tampil kritis apalagi dengan pembaca besar, adalah momok, sehingga media sering "dibungkam" dengan angpao, bahkan melalui anggaran resmi pemerintah dengan nomenklatur "pembinaan", "penyebaran informasi" atau "sosialisasi".
Padahal, kritik - sesuai karakternya, (seyogyanya) sangat jauh dari komentar antipati, negative thinking, dan semacamnya. Sebab kritik (mungkin ini yang kita sebut sebagai "kritik membangun"), paling tidak, harus memiliki unsur analyzing (didukung fakta, data dan parameter yang jelas), classifying (fokus dan tidak hantam kromo), interpreting (makna yang jelas, sebab kritik muncul di atas fakta yang paling jauh diinterpretasi dan bukan dipersepsikan), serta evaluating, yaitu bahwa kritik akan membawa kepada yang lebih baik di masa depan.
Maka kritik tidak selalu dengan konotasi negatif, yang harus dihindari dan ditakuti. Kritik – dalam prosesnya yang paling sempurna, adalah sebuah proses "penyempurnaan" akibat keterbatasan manusia itu sendiri. Untuk itu, dalam konteks pelayanan publik, kritik terkadang lebih dibutuhkan ketimbang pujian. Ketika Abubakar menjabat khalifah, ia lebih merindukan kritik dari pujian yang justru lebih banyak menjebak, sehingga Abubakar sering menginspirasi para sahabat untuk menyumpal mulut-mulut para pemuji dengan tanah atau debu (turaab).
Kritik sebagai proses "penyempurnaan" bisa berfungsi sebagai "penilaian dan pelurusan" akan satu kekurangan pekerjaan atau kebijakan yang mungkin tidak kita sadari, tidak kita pikirkan atau mungkin kita lengah dalam melaksanakannya, yang bisa dengan "penilaian" minus dari pekerjaan yang memang kita tidak becus dalam mengerjakannya, pengungkapan nilai lebih (appreciation) ketika kita memaksimalkan pekerjaan itu, atau "pelurusan" ketika kita sudah beranjak jauh dari maksud dan tujuan semula.
Maka dalam konteks pembangunan, kritik sangat erat kaitannya dengan potret (image) sebagai bagian dari pembangunan itu sendiri, sehingga image kemajuan atau keterbelakangan sangat tergantung pada pengelolaan informasi dan kritik. Dan tidak mustahil, image keterbelakangan Selayar justru muncul karena ketidak mampuan kita mengelola informasi dan kritik ini, yang pada akhirnya kekurangan individu itu harus diterima sebagai kekurangan kolektif.
Kritik memang seyogyanya hanya menyentuh ranah publik dan bukan privasi. Kekurangan dalam individu, misalnya ada bisul di pantat kiri kita karena pola makan yang salah, memang bukan untuk konsumsi publik, dimana paling jauh hanya diketahui istri atau suami, dan dokter. Dalam urusan pemerintahan, kebijakan dan kegiatan yang berhubungan dengan tugas-fungsi sebagai pelayan publik (public servant dan bukan sebagai abdi negara sebagaimana yang dikedepanan selama ini) adalah hak publik untuk mengetahui bahkan mempertanyakan dan mengkritisi, apakah memang pekerjaan itu untuk publik atau tidak, pekerjaannya itu ada manfaatnya atau hanya ada di atas lembaran pertanggungjawaban dan laporan kegiatan. Maka untuk itu kritik harus selalu ada dan diberi ruang.
Ketika kita menghindari kritik, mungkin kita memang menyembunyikan apa yang telah kita lakukan, bisa jadi karena memang tidak baik, tidak ada gunanya, atau bahkan mungkin kegiatannya hanya ada "di atas kertas".
Seorang wanita berani mengenakan bikini, hanya karena bodynya bagus dan kulitnya mulus. Ketika ada panu, kadas, kurap, bahkan borok, tentulah akan disembunyikan.
Dalam beberapa situasi, kritik memang bisa juga berarti sebagai penemuan kesalahan (faultfinding).
Tapi kalau program dan pekerjaan memang bagus, kenapa harus takut buka-bukaan?
Hanya yang panuan yang menutupi panunya karena menghindari komentar dan kritik.

|
|
|
- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates |
![]() |
Seorang pekerja anak …… buruh panggul …. bertahan di atas kendaraan … agar tidak jatuh agar bertahan hidup …
- Tidak pernah terlambat untuk peduli dan berbagi. - Selayar Online - |
![]() |
![]() |
![]() |














































