
“Ini bukan perencanaan. Ini hanya daftar keinginan !!!”. Suara itu seperti vonis dalam sebuah sidang terhadap seorang durjana yang memang ingin disingkirkan dari kehidupan ini. Dingin, sedikit kasar, dan ada aroma keangkuhan. Perencanaan yang disusun oleh masyarakat yang berisi “daftar permasalahan” sudah menemui takdirnya; dianggap tidak layak, dan untuk itu harus diabaikan.. Beberapa masyarakat yang diundang (tepatnya dipajang) meninggalkan ruangan dengan tetap menebar senyum sebagaimana biasanya. (Istilah “daftar keinginan” dan “daftar kebutuhan” sering menjadi tidak jelas walau kita mencoba memberikan definisi difrensiasi)
Hampir selalu di dalam pertemuan dengan masyarakat - yang kebanyakan berpendidikan minim, tapi tidak dongo, adalah nafsu kita untuk memberi impresi pintar, tentu saja kepada masyarakat berpendidikan minim, tapi sekali lagi tidak dongo itu. Tapi impresi itu kebanyakan justru tidak muncul. Tidak juga dalam kenyataan. Kecuali bahwa memang banyak dari peserta rapat yang memiliki gelar, tersulam indah di seragam bagian kanan, di atas saku baju yang dibeli bukan dari dompetnya sendiri.
Kita lebih sering memposisikan diri sebagai “pemberi perintah” dan hampir tidak pernah memposisikan diri sebagai pendengar dan fasilitator yang merupakan tugas utama seorang public servant.
Sebuah informasi awal – seputar permasahan yang dialami masyarakat, lebih sering ditip-ex dari proses penyusunan program kita. Kita lebih percaya kepada perencanaan “kita” berdasarkan permasalahan masyarakat menurut “kita”. Padahal data awal itulah yang sangat penting, terutama ketika kita tidak pernah hidup dengan dan bersama masyarakat yang kita ingin “bangun”. (Kalaupun ke masyarakat, pasti duduk di bagian depan dan dijamu dengan meriah)
Dalam sebuah program, yang selalu dipertaruhkan adalah masyarakat berpendidikan minim – dan kebanyakan susah itu. Dan sialnya, banyak program yang ketidakadaan hasilnya itu diketahui setelah melampaui hitungan tahun. Proyek milyaran tiba-tiba sudah “dianggap” selesai, dengan sedikit manfaat atau bahkan tanpa manfaat sama sekali. Luar biasanya lagi, tidak ada yang dievaluasi, tidak ada yang bersalah, dan tidak ada yang dianggap dongo. Bahkan terkadang, kedongoan itu justru diberi tepukan sebagai prestasi karena berhasil “membuat program”. Seperti orang yang jatuh berulangkali dari motornya dan hanya mendapatkan lecet, akan dianggap sebagai “orang hebat”.
Tidak heran bila masyarakat berpendidikan minim itu, tidak pernah berharap banyak, “pasrah”, mungkin juga “masa bodoh”. (Yang pernah bekerja dengan masyarakat pasti tau betul hal ini).
Kita akhirnya bisa melihat berbagai mesin dan fasilitas di banyak tempat; dalam kota, pelabuhan, pesisir, tengah kebun, tanpa beroperasi dengan berbagai penyebab; mesin tidak lengkap, bahan baku tidak ada, atau bahkan tidak mampu kita operasikan dan fungsikan. (Dalam Forum Diskusi media ini, bisa dilihat berbagai informasi masyarakat tentang kegagalan kia membuat program, kecuali bahwa kita berhasil “mempertanggungjawabkan anggaran”, atau dengan kata lain, berhasil membelanjakan anggaran dengan kuitansi pertanggangjawaban, ukuran terakhir kita dalam “membangun”).
Tidak mustahil, frustrasinya masyarakat berpendidikan minim itu, di antaranya maraknya money politic dalam setiap pemilihan, berkreasi membuat program dan kemudian membawa proposal keluar masuk instansi, karena kesimpulan “hanya saat itulah bisa mendapatkan manfaat” (dalam pembangunan).
Kita selalu punya suara besar meneriakkan niat atas gagasan besar, tapi tidak pernah tau bagaimana melangkahkan kaki, atau dengan kata lain, kita lebih sering mengakhiri sebelum memulai.
Kita punya perkakas, alat bantu, stamina dan gairah. Itulah potensi. Tapi ketika kita tidak mampu mengelola semua itu, itulah impotensi. Dan kita terus-terus membayarnya dengan biaya yang sangat besar, dengan penuh suka cita …
|
|
|
- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates |
![]() |
Seorang pekerja anak …… buruh panggul …. bertahan di atas kendaraan … agar tidak jatuh agar bertahan hidup …
- Tidak pernah terlambat untuk peduli dan berbagi. - Selayar Online - |
![]() |
![]() |
![]() |












































