
Salah satu tempat favorit dimana saya senang melewatkan waktu di tempat itu – dan biasanya ditemani secangkir kopi, adalah; jendela. Dan itu ketika sedang bekerja, di kantor atau di rumah, bahkan ketika tidak sedang bekerja.
Terkadang tanpa ada tujuan yang jelas; ketika melihat cahaya – yang tidak selamanya tembus ke dalam ruangan, hati menjadi tenang, sepertinya telah mendapatkan sesuatu dari luar sana – melalui jendela, walau tidak jelas apa saja yang telah didapatkan.
Pernah saya melihat seorang ibu menarik celana bagian belakang sambil merenggangkan kaki, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal. Pernah pula saya melihat putri tetangga yang masih di sekolah menengah pertama memeluk seorang pemuda dari belakang yang memboncengnya dengan badan melekat seperti kembar siam, dan saya tahu bukan keluarganya.
Yang sering saya lihat adalah seorang nenek penjual sapu ijuk. Hampir setiap hari ia lewat. Terkadang tidak ada yang laku. Saya memastikan itu karena menghitung sapu ijuk yang dibawanya, yang tidak berubah ketika melintas untuk pulang. Pernah saya membeli satu, seharga 4000. Saya membayar dengan uang lima ribuan. Kembalian tidak saya minta. Apalagi, tidak ada uang kembalian, katanya begitu saya membayar. Bulan berikutnya saya membeli lagi satu, walau yang saya beli bulan lalu belum dipakai. Saya bayar lagi dengan uang 5000. Tidak ada uang kembalian, katanya – lagi-lagi, begitu saya membayar. Tapi saya tidak beranjak. Ketika memperhatikan sang nenek memasukkan uangnya ke dalam dompet lusuh dari plastik bekas pembungkus permen, aku melihat beberapa uang lembaran seribuan.
Sejak itu saya tidak membeli sapu ijuk lagi dari sang nenek.
Pernah pula seorang bapak bertengkar tentang ongkos becak dengan seorang abang becak. Si bapak hanya menyodorkan 2000 rupiah, karena katanya (jaraknya) dekat. Tapi abang becak yang juga sudah tidak muda lagi, ngotot meminta 3000 rupiah, dengan alasan, dari tempat sang penumpang naik dan tempat turunnya, jauh. Sang penumpang ngotot dan sambil berbalik ia menunjuk; “Itu di sana tempat naik saya, kelihatan dari sini. Sudah sangat banyak bila membayar 2000”. Abang becak tidak mau kalah, menunjuk ke atas dan berkata: “langit juga kelihatan dari sini, tetapi biar 1 juta saya tidak mau”. Tidak jelas siapa yang “kalah” atau “mengalah”, tetapi keduanya berpisah setelah berjabat tangan, saling tersenyum, dan saling melambai ketika berpisah.
Pernah pula seorang pria separu baya berjalan perlahan, melihat kiri dan kanan, kemudian masuk ke halaman kantor, kemudian membuka celana dan berniat melepaskan air seninya di bagian dalam pagar depan kantor. Saya meninggalkan belakang meja, melongokkan kepala dan berkata perlahan; “Pak, di dalam ada kamar kecil … di dalam saja”. Mungkin kaget, sang pria mendadak melompat, meraih sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat. Selintas saya masih melihat tetesan air yang membasahi bagian bawah sepedanya.
Pernah pula saya melihat seorang pengendara motor mendadak berhenti. Ban motornya menimbulkan bunyi berderit di atas aspal. Saya kaget. Seorang nenek yang melintas di dekatnya juga kaget dan melangkah mundur. “Sudah mau pulang?”, terdengar suara sang pengendara. Agak besar, mungkin pendengaran sang nenek sudah agak terganggu. Tapi tentunya ia mengenal sang nenek, karena pengendara itu tidak menanyakan lagi kemana sang nenek akan pergi. Sejenak kemudian, sang nenek sudah naik di bagian belakang sang pria sambil memangku jualannya, dan berlalu.
Berbagai pola dan polah serta tingkah manusia – termasuk hewan yang sering lalu lalang nyasar masuk kota, bisa dilihat dari jendela. Yang paling sering adalah melihat anak yang membawa becak, hampir setiap hari. Ada juga pemulung, yang juga anak-anak. Ada potret warna-warni di luar sana. Ada interaksi, ada atraksi. Mungkin menghibur, mengharukan, menggelikan, atau hanya seperti angin berhembus, berlalu tanpa aroma. Tapi semuanya nyata. Dan kenyataan selalu memancarkan – minimal secercah hikmah, sehingga peristiwa di luar sana bisa jadi juga semacam cermin, tempat kita melihat “diri” kita, melihat “keluarga” kita, bahkan melihat “kampung” kita. Sekali waktu kita perlu melihat ke luar sana – mungkin melalui jendela. 
Yang mengutakaman berada dalam ruangan tanpa meluangkan waktu untuk memandang ke luar, hanya orang sakit atau … yang terpasung.
|
|
|
- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates |
![]() |
Seorang pekerja anak …… buruh panggul …. bertahan di atas kendaraan … agar tidak jatuh agar bertahan hidup …
- Tidak pernah terlambat untuk peduli dan berbagi. - Selayar Online - |
![]() |
![]() |
![]() |












































