![]() |
![]() |
Akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat, atau bahasa aslinya; al-aqlus saliem, fil jismis saliem. Belum tentu!. Para calon presiden dan wakil presiden badannya sehat-sehat, selalu makan makanan yang bergizi, rajin berolah raga, pendidikannya bagus, dan masih harus menjalani pemeriksaan fisik dan mental. Ya, mungkin karena itu tadi: akal yang sehat belum tentu berada pada badan yang sehat.
Begitupun dalam kehidupan sehari-hari. Banyak maling, perampok, justru badannya sehat-sehat, walau mungkin jarang berolah raga, tapi yang pasti banyak terjaga di malam hari.
Bukan hanya badan sehat yang belum tentu melahirkan akal yang sehat.
Akal yang pintarpun belum tentu melahirkan jiwa yang sehat. Buktinya banyak koruptor yang pendidikannya tinggi dan sering juara kelas, bahkan bintang kampus. Ada juga yang pernah juara menyanyi, bahkan juara golf.
Akal yang sehatpun belum tentu melahirkan kata-kata yang sehat. Buktinya banyak janji tidak masuk akal yang sering ditebar – dan hampir mustahil untuk ditepati, sehingga hasilnya sudah diketahui terlebih dahulu, tanpa membutuhkan mentalist untuk memprediksinya.
Akal yang sehatpun belum tentu melahirkan tindakan yang sehat. Buktinya banyak orang pintar, intelek – bahkan pernah menulis buku, tapi kita tahu tindakan-tindakan dari banyak orang sehat itu.
Maka ketika kita melihat terminologi sehat wal afiat, kedua kata ini sebenarnya sama tapi tidak sejenis. Sehat lebih merujuk kepada sehatnya fisik, sedang afiat lebih merujuk pada sehatnya jiwa dan spiritual. Bahkan dalam bahasa asalnya (Arab), afiyah, juga berarti berbesar hati, memaafkan, dan menolong.
Untuk itu, pemeriksaan kesehatan, fisik dan mental, hanyalah persyaratan untuk menjadi (calon) pemimpin, calon presiden atau calon wakil presiden misalnya, dan sehat sendiri bukan “kriteria”. Bagus, tapi tidak penting. Tidak terlalu penting seorang pemimpin itu kurang gizi, punya diabetes, punya penyakit jantung atau tidak, atau berkaki satu seperti Si Rambut Perak Sow Thian Hai dari Pulau Es dalam kisah Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Kita juga ingat Ummi Maktum, seorang sahabat Nabi yang walau buta tapi dipercaya menjadi imam shalat. Pemimpin tidak lahir dari vitamin, suplemen, makanan bergizi atau otot kencang.
Dalam konteks ra’i (gembala atau penjaga) dengan raiyah (gembalaan) – yang kemudian kata terakhir ini kita adopsi menjadi ra’yat atau rakyat, seorang gembala harus meyakinkan dirinya bahwa gembalaannya mendapatkan rumput yang segar, minum dari air mata air segar dan jauh dari gangguan serigala. Sebuah pagar, hanyalah sebuah “sarana”, dan untuk itu tidak terlalu penting, apakah dari baja atau emas.
Dalam konteks ra’i dan ra’iyah ini, yang paling esensi adalah bukan pada pemberian sesuatu untuk ra’iyah, tetapi lebih kepada substansi.
Sebuah pemberian bisa sangat dihargai, tapi sebenarnya tidak selalu memiliki arti penting. Membantu masyarakat miskin dengan sendok dan garpu dengan asumsi akan makan lebih baik, mungkin bagus, tapi tidak terlalu berharga bagi kita yang sering makan dengan tangan, atau bahkan yang akan disendok sendiri tidak ada. Begitupun ketika memberikan bibit cengkeh untuk petani di daerah pesisir, memberikan alat penangkap ikan kepada petani yang hanya melihat laut ketika ke kebun, dan seterusnya. Bagus, berharga, tapi tidak substantif.
Program pembangunan yang kita gagas bisa sangat mahal, mulai dari peninjauan lokasi, pembuatan desain, biaya ngurus pengambil kebijakan, biaya rapat dengan honorarium, sampai perlunya melibatkan konsultan yang lebih banyak nangkring di belakang meja. Tapi seperti guci antik, hanya cocok di ruang tamu, tapi tidak pernah digunakan untuk keperluan sesuatu. Atau seperti sarung sutera, mahal, indah, tapi hanya sekali setahun dirasakan manfaatnya, misalnya ketika dikenakan pada hari lebaran. Gaya men…
Dalam hiruk pikuk pemilihan dimana persyaratan (calon) pemimpin tidak serta merta menjamin lahirnya pemimpin pro masyarakat, hal ini – untuk kesekian kalinya, mungkin perlu digarisbawahi kembali. Yang penting untuk kita lihat kembali dalam momen seperti ini – ketika program bertebaran tanpa ada hasil berarti kecuali daftar hadir, kuitansi, foto dokumentasi untuk dipajang, honor yang terkadang setengah dari seluruh anggaran program, adalah bagaimana memilih pemimpin yang tindakannya sehat, persetan orangnya panuan atau kudisan, atau bahkan mungkin usianya “sisa” setahun karena mengidap leukemia misalnya.
|
|
Kita lebih membutuhkan orang afiat dari pada orang yang sekedar sehat saja.
|
|
|
- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates |
![]() |
Seorang pekerja anak …… buruh panggul …. bertahan di atas kendaraan … agar tidak jatuh agar bertahan hidup …
- Tidak pernah terlambat untuk peduli dan berbagi. - Selayar Online - |
![]() |
![]() |
![]() |














































