![]() |
|
Seorang anak pejabat bisa petenteng-petenteng, mendikte bawahan ayahanda terhormatnya, dan terkadang mau dan berhasil memaksakan kehendaknya itu. Itulah nasib. Bukan nasib atas kenyamanan yang "didapatkan" dengan sangat menyedihkan itu, tetapi adalah nasib karena "ditentukan" sebagai putra atau putri seorang pejabat.
Nashieb – dalam bahasanya yang asli (Arab), adalah bagian, yang walaupun bagaimana kerasnya kita berusaha, bagian kita tentang kekayaan di dunia ini misalnya, akan sama dengan bagian yang telah "ditentukan". Bagian ini tidak dapat diukur oleh jabatan, modal usaha yang besar, atau ratusan "kenalan" yang kita miliki.
Nashiib – yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi nasib, berasal dari kata nashaba, yang berarti mengenakan, menancapkan.
Dalam derivasinya, kata ini juga menjadi nashab, kata yang kemudian kita terjemahkan menjadi keturunan, karena "keturunan" adalah memang sesuatu yang juga telah ditetapkan, bahkan dengan mutlak. Saya, misalnya, tidak bisa (lagi) meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan sebagai anak Onassis, atau putra tunggal Bill Gates, atau bahkan putra seorang presiden. (Saya bangga dengan Ayah saya sendiri. Terimalah hormatku, Ayah!)
Nashab – adalah salah satu yang telah ditentukan oleh Sang Khaliq. Saya tidak bisa memastikan bahwa keturunan saya akan berjumlah 99 orang walau sepanjang waktu tidak pernah lepas dari samping sang istri.
Maka adalah tidak tepat ketika kita mengajak orang lain untuk "menentukan nasib", misalnya kampanye mengajak orang lain untuk memilih calon legislatif dengan alasan bahwa "pilihan kita akan menentukan nasib bangsa ke depan". Kita seharusnya mengajak orang lain, termasuk diri kita sendiri, untuk "mengambil" nasib kita itu.
Kata-kata "tentukan nasibmu sendiri" hanya menjadi tepat kalau hal itu berhubungan dengan segala daya dan upaya untuk mencapai "porsi" kita.
Ketika sebuah jabatan berhasil didapatkan, berarti seseorang itu memang mendapatkan "jatah" jabatan itu – lepas dari cara yang ditempuh, dan kalau tidak berhasil mendapatkannya, berarti memang seseorang itu tidak mendapatkan "jatah" jabatan, sebesar bagaimanapun tenaga, pikiran, bahkan materi yang dikeluarkan.
Maka ketika kita "menyesali" nasib, pada hakekatnya kita "menolak" porsi kita. Sebab bisa jadi, kita sendiri yang tidak bersungguh-sungguh merengkuh "porsi" kita itu sehingga kita hanya mendapat sebagian saja. Seperti halnya ketika "jatah" kita itu ada di lantai sepuluh dari sebuah bangunan, tapi ketika baru sampai di lantai sembilan yang lantaran capek kemudian muncul dalam hati dan pikiran bahwa upaya kita sudah maksimal, dan kita lantas berhenti. Padahal, hanya karena kekuasaan Tuhanlah yang mengajarkan optimisme sehingga harus menyimpan rahasia itu, sehingga kita tidak tau bahwa selangkah lagi kta sampai di "jatah" kita yang sesungguhnya.
Hanya saja, dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam semangat menggapai "porsi" kita itu, sebagian dari kita memang sering mengakali "takaran" jatah itu, misalnya dengan menjadikan diri kita terlalu bersemangat – bahkan licik, sehingga apa yang seharusnya menjadi porsi orang lain, kita caplok atas nama usaha dan kompetisi.
Dari perilaku ini, muncullah kata baru – dari kata dasar yang sama, yaitu nashb (penipuan), dan orang yang melakukannya disebut nash-shab (penipu). Seorang penjual menyembunyikan jualannya yang rusak ke pembeli yang ketika membeli dan membayar adalah membeli yang baik.
Karena pembeli membayar untuk yang baik – dan untuk itu harus mendapatkan "bagian" yang baik, maka sang penjual yang memberikan barang rusak di luar "kesepakatan" disebut nash-shab atau penipu, karena ia pada hakekatnya telah mengambil "bagian baik" orang lain yang seharusnya menjadi nashiib pembeli itu.
Begitupun dalam proyek, atau dalam pelayanan publik. Dalam proyek, dimana "bagian" masyarakat adalah sebuah bangunan yang bagus, misalnya, dan kita "menukarnya" dengan bangunan berkualitas lebih rendah, begitupun dalam pelayanan publik dimana anak-anak kita "disepakati" harus mendapatkan pendidikan berkualitas melalui dana BOS tapi yang diberikan adalah buku-buku murah yang tidak digunakan lagi dalam kurikulum pendidikan, maka apapun alasannya, kita telah berubah menjadi nash-shab.
Sialnya lagi, ketika hal-hal tersebut dipertanyakan, muncullah kata-kata: syukur saja karena dapat gratis. Gratis memang. Tetapi "nasib" (bagian) itu seharusnya yang baik sesuai dengan porsinya ...
|
|
|
|
- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates |
![]() |
Seorang pekerja anak …… buruh panggul …. bertahan di atas kendaraan … agar tidak jatuh agar bertahan hidup …
- Tidak pernah terlambat untuk peduli dan berbagi. - Selayar Online - |
![]() |
![]() |
![]() |















































